Showing posts with label Islamic Stop Dreaming Start Action. Show all posts
Showing posts with label Islamic Stop Dreaming Start Action. Show all posts

Saturday, August 29, 2009

Action or Positive Thinking?

Mana yang lebih penting antara berpikir positif dengan tindakan? Saat saya sedang menulis berpikir positif, pernah ada yang mengomentari “buat apa berpikir positif jika tanpa tindakan?” Lalu dimana peran berpikir positif? Jika kita, masih belum memahami masalah ini, maka pengembangan diri kita akan terhambat.

Memang, seolah ada dua kubu dalam konsep pengembangan diri termasuk bisnis. Ada yang mengajarkan habis-habisan tentang berpikir positif, law of attraction, percaya diri, meditasi, berjalan diatas bara api, dan sebagainya. Sementara ada juga yang seolah mengajarkan cukup bertindak saja.

Lalu, mana yang benar?

Jawabannya sederhana. Pikiran positif dengan tindakan sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Karena keterbatasan pemahamanlah yang menyebabkan seolah berpikir positif terpisah dengan tindakan. Intinya seperti ini:

Hanya orang yang berpikir positiflah yang akan bertindak dengan benar. Sebaliknya orang yang bertindak dengan benar, berarti dia sudah berpikir positif.

Mungkin bukan salah gurunya. Tapi kadang kita yang salah menerjemahkan apa yang dikatakan oleh guru kita. Saat saya mengikuti kelas entrepreneur, seorang mentor memotivasi saya dan peserta lainnya untuk bertindak. “Tidak perlu banyak mikir, tidak perlu takut gagal, yang penting bertindak.” katanya.

Selintas, mentor tersebut hanya mengajarkan kita untuk bertindak saja. Padahal mentor tersebut mengajarkan 2 hal. Yang pertama berkaitan dengan berpikir positif, yaitu menanamkan kesadaran bahwa kita harus segera bertindak dan kesadaran tidak takut gagal. Kesadaran akan kedua hal ini adalah suatu pikiran positif. Dan yang kedua, tentu saja tentang tindakan.

Saat kesadaran sudah diterima oleh diri kita. Meresap ke dalam sanubari kita atau pikiran bawah sadar kita, maka kita pun akan bertindak. Kenapa? Karena kita sadar bahwa segera bertindak itu perlu dan karena kita sadar bahwa kita tidak perlu takut gagal.

Artinya, berpikir positif dan bertindak tidak bisa dipisahkan. Saat orang mengaku sudah berpikir positif tetapi belum bertindak, sebenarnya dia belum berpikir positif. Saat ada orang yang sudah bertindak dengan baik dan mengatakan tidak perlu berpikir positif, sebenarnya dia sudah berpikir positif, hanya saja dia tidak tahu apa itu berpikir positif.

Saat ada orang yang mengaku sudah berpikir positif namun belum terlihat dalam tindakannya, artinya pikiran positif itu belum masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya. Sementara tindakan akan diarahkan oleh pikiran bawah sadarnya, bukan oleh pikiran sadar. Memang, tidak mudah untuk memahami konsep ini, diperlukan pembahasan cukup panjang.

eBook Beautiful Mind membahas tentang berpikir positif (islami), cara kerja pikiran, dan bagaimana “meresapkan” pikiran positif ke dalam pikiran bawah sadar kita. Saat pikiran positif sudah meresap ke dalam pikiran bawah sadar, maka tindakan dan kebiasaan kita akan positif. Kemudian tindakan positif akan membawa kepada hasil yang positif.
Kesimpulannya Action dan Positive Thinking merupakan dua hal yang dperlukan agar suatu rencana tindakan sukses. Konsep Stop Dreaming Start Action tidak mungkin bisa sukses jika tidak didampingi oleh berfikir positif.

Selengkapnya...

Konsep Islam tentang Action

Dalam Islam, perbuatan atau tindakan dapat dipandang sebagai mood of existence , yaitu cara beradanya manusia. Seseorang disebut ada (eksis) bila ia bekerja atau berbuat. Tanpa kerja, ia sama dengan tidak ada ( wujuduh-u ka’adamih-i ).Tetapi tindakan adalah mata rantai dari sukses. Tindakan adalah sangat penting dalam meraih sukses. Namun, ada satu hal yang perlu kita perhatikan yaitu kita jangan pernah menggantungkan diri pada tindakan. Tindakan bukan segala-galanya, bukan tindakan yang menentukan sukses tidaknya seseorang.

Bukan berarti tidak perlu bertindak, yang tidak boleh adalah menggantungkan diri pada tindakan. Hanya Allah-lah tempat bergantung segala sesuatu.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlaas:2)

Masalahnya banyak orang lupa, dia menggantungkan pada tindakan. Banyak umat Islam yang terjebak pada konsep materialistis yang mengangungkan tindakan. Ini bukan masalah sepele, ini adalah masalah akidah.

Tindakan, berusaha, atau berikhtiar memang tetap perlu dilakukan namun tanpa diiringi rasa ketergantungan pada tindakan tersebut. Jika seperti itu, artinya kita bukan seorang hamba yang bertawakal. Seseorang yang bertawakal ialah mereka yang selalu mengantungkan segala sesuatunya kepada Allah sambil tetap berusaha.

Abu Said Al-Kharraz berkata bahwa tawakkal ialah:

“Gerakan anggota tubuh dalam berusaha tanpa perasaan bergantung kepada usaha, dan ketenangan hati hanya kepada Allah tanpa sedikitpun keraguan dengan-Nya.”

Oleh karena itu, untuk meraih sukses, ambillah tindakan dengan diringi rasa tawakal, yaitu hanya menggantungkan pengharapan kepada Allah. Bukan bertindak dulu baru tawakal, tetapi bertindaklah dengan diiringi ketawakalan. Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita bertawakal sejak pertama kali melangkah.

Dari Anas bin Malik ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (doa, yang artinya): Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya selain dengan Allah swt.. maka dikatakan kepadanya: Engkau telah mendapat petunjuk, dicukupi dan dilindungi, lalu syetan pun menyingkir darinya. Setan berkata (kepada kawannya): Bagaimana (engkau bisa memperdaya) seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi? (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menepis anggapan keliru bahwa tawakal hanya diletakan di belakang, berusaha dulu baru tawakal, katanya. Yang benar ialah berusahalah sambil bertawakal, dari awal sampai akhir, termasuk saat menunggu hasil setelah berusaha.

Mudah-mudahan, kita semua menjadi hamba-hambat yang bertawakal sehingga semua keperluan kita akan dicukupi oleh Allah.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq:3)
Jelaslah bahwa konsep Agama Islam pun menekankan pentingnya Action atau Amal demi kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat. Azas Stop Dreaming Start Action tampaknya selaras dengan apa yang diajarkan dalam Agama Islam yang kita anut.

Selengkapnya...

Visioner vs Pemimpi

Apa bedanya visioner dengan panjang angan-angan atau pemimpi melulu? Masih banyak yang tidak bisa membedakan. Sebab saat saya sedang berbicara visi, ada yang menganggap itu adalah panjang angan-angan. Padahal bedanya seperti bumi dan langit. Visi membawa kepada kebaikan dan panjang angan-angan membawa kepada keburukan.

Panjang angan-angan lebih dikaitkan dengan keinginan kosong. Hanya sebuah lamunan dan anggapan keliru tentang masa depan. Orang yang percaya kepada seorang peramal dan bertindak sesuatu hasil ramalan bisa dikategorikan panjang angan-angan.

Dalam sebuah hadits, panjang angan-angan juga dikaitkan dengan kematian. Orang yang panjang angan-angan menganggap akan hidup lama. Yang dimaksud panjang angan-angan ialah meletakan harapan dan keinginan seolah akan terjadi masih jauh dan dia tidak memikirkan kapan kematian akan datang.

Dalam riwayat Bukhari, Anas ra berkata, ”Nabi membuat garis seraya bersabda, ’Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika dia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari ’garisnya yang paling dekat’ adalah ajal kematiannya.

Orang yang panjang angan-angan akan bersikap santai. Dia merasa tidak perlu bertindak segera. Dia menganggap kematiannya masih akan lama. Sementara, orang yang cerdas ialah mereka yang mengingat kematian. Dia akan bertindak segera untuk masa depannya. Ingat mati adalah suatu gambaran bahwa kita harus memperhatikan masa depan kita (hari esok). Inilah yang disebut dengan visi.

Berkata Ibnu Omar r.a: Pada suatu hari aku datang berjumpa Rasulullah s.a.w yang sedang berada di tengah kalangan sahabat yang terkemuka. Lalu berdirilah seorang sahabat daripada Ansar bertanya Rasulullah dengan berkata:

“Ya Rasulullah! Siapakah yang paling pintar dan siapa pula yang paling cerdas akalnya?”

Rasulullah menjawab: “Yang paling cerdas dan yang paling pintar ialah orang yang paling banyak mengingati mati dan yang paling banyak bekal menghadapi mati. Merekalah yang paling pintar dan yang paling cerdas kerana mereka mendapat kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat.”

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingati mati.” (Hadis Riwayat: At Thabrani)

Jadi orang yang visioner akan bertindak segera untuk mempersiapkan hari esok. Dia akan memperhatikan apa-apa yang dia lakukan untuk hari esok. Sungguh, sangat berbeda dengan apa yang disebut dengan panjang angan-angan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr:18)

Memiliki cita-cita, harapan, tujuan, atau visi bukanlah termasuk panjang angan-angan. Mengapa Rasulullah saw hijrah? Sebab ada harapan setelah hijrah. Rasulullah saw memiliki visi Islam akan berkembang setelah hijrah. Meskipun berat, bahkan berkali-kali gagal, tetapi hijrah tetap dilakukan. Visi justru akan membuat kita bergerak. Sementara panjang angan-angan akan menjadikan kita santai.
Visi Stop Dreaming Start Action akan membuat kita termotivasi untuk bergerak demi kesuksesan hidup dalam berbagai bidang!

Selengkapnya...

Followers

PMDK © 2009 Template Redesign by Not Just A Reference.

TOP