Showing posts with label Objek Wisata. Show all posts
Showing posts with label Objek Wisata. Show all posts

Tuesday, September 1, 2009

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata Air Terjun Gendang di Pandeglang Banten


Dalam Rangka Kontes SEO Cinta Pandeglang Mari kita Kenali dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang yang bernama Air Terjun Curug Gendang. Biasanya, setelah puas menikmati keindahan Pantai Carita dan menjelajahi Taman Wisata Alam Carita, pengunjung akan mencoba menikmati suasana lain, yaitu mandi di Curug Gendang yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kedua obyek wisata tersebut.

Pada awalnya, air terjun yang berada sekitar 170 meter di atas permukaan laut (dpl) dan berasal dari hulu mata air Gunung Panganjaran ini bernama Curug Citajur. Namun karena suara air terjunnya yang mirip dengan suara gendang atau tambur, masyarakat setempat kemudian menamainya Curug Gendang. Konon, kawasan Curug Gendang ini dahulunya digunakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai tempat persembunyian dari kejaran tentara Belanda.


Obyek wisata Curug Gendang merupakan perpaduan dari hutan yang lebat, jalan setapak yang berliku-liku, panorama alam yang indah, dan air terjun yang jernih. Kondisi alam yang sedemikian rupa ini memberi cukup ruang kepada pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan.

Hutannya yang hijau dan lebat, serta ditingkahi siulan aneka burung, tepat sekali dipilih sebagai tempat untuk lepas sejenak dari rutinitas atau sekadar mencari inspirasi. Di kawasan ini, terdapat berbagai flora langka, seperti jati (tectona grandis), mahoni (swietenia macrophylla), mahoni afrika (swietenia khaya antoteca), bungur (lagerstromia speciosa), dan lain sebagainya.

Berbagai fauna langka, antara lain babi hutan (susvitatus), kera ekor panjang (macaca fascicularis), lutung (tachypitechus auratus), biawak (varanus salvator), ular sanca (phyton sp), kelelawar (ordo chiroptera), alap-alap (falco moluccensis), tupai (tupaiidae), dan elang (spilornis cheela), juga dapat dijumpai di sini.

Sementara itu, jalan setapak yang berliku-liku dan terkadang naik-turun, serta tebing dan jurang di sisi kiri-kanannya, tentu menjadi lokasi yang diidam-idamkan oleh pecinta olahraga lintas alam. Ketika perjalanan sampai di punggung perbukitan, pengunjung dapat melihat hijaunya pepohonan di kaki bukit, atau menikmati eksotisme Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan.

Rasa penat selama menempuh perjalanan akan terobati begitu sampai di air terjun setinggi 7 meter dengan kedalaman 13 meter dan luas 10 meter tersebut. Suara air terjunnya yang bagai suara tambur dan air kolamnya yang bening itu memikat pengunjung untuk segera menceburkan diri ke dalamnya. Di sini, pengunjung dapat melepas lelah dan gerah dengan mencuci muka, merendam kaki, atau mandi sepuasnya. Bagi pengunjung yang ingin menguji nyalinya dapat melompat dari tebing-tebing batu yang terdapat di bagian atas Curug Gendang.


Air Terjun Curug Gendang terletak di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Indonesia.


Dari Jakarta, pengunjung dapat mengambil rute Jakarta-Serang-Pandeglang-Labuan-Carita dengan jarak tempuh sekitar 160 kilometer. Sedangkan dari Bogor, dapat mengambil rute Bogor-Rangkasbitung-Pandeglang-Labuan-Carita dengan jarak tempuh sekitar 150 kilometer. Dari jalan raya Carita, Curug Gendang berjarak sekitar 2 kilometer, atau sekitar 3,5 kilometer dari Taman Wisata Alam Carita. Setelah sampai di area parkir atau pos jaga/pos retribusi, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Curug Gendang dengan berjalan kaki sekitar 1 kilometer.

Pengunjung yang ingin menginap tidak perlu cemas karena di sekitar kawasan Curug Gendang terdapat home stay, pesanggrahan, dan wisma dengan berbagai tipe. Disediakannya camping ground yang luas dan aman dapat digunakan pengunjung yang ingin menikmati kawasan ini dengan berkemah.

Di sini terdapat warung yang menyediakan makanan dan minuman, sehingga pengunjung tidak akan kelaparan berada di lokasi air terjun tersebut.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti areal parkir yang luas dan aman, pos jaga, dan toilet, juga terdapat di sini.
Selengkapnya...

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata Ujung Kulon di Pandeglang Banten


Dalam Rangka Kontes SEO Cinta Pandeglang Mari kita Kenali dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang yang bernama Taman nasional Ujung Kulon yang berada di Provinsi Banten yang letaknya di ujung Pulau Jawa bagian barat. Taman nasional ini mulai dikembangkan sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1820-an, atau setelah munculnya gagasan dari para sarjana kolonial Hindia-Belanda yang datang ke Pulau Jawa untuk menciptakan kawasan konservasi alam di Ujung Kulon. Sarjana-sarjana kolonial yang sebagian besar merupakan anggota Organization for Scientific Research in Netherlands Indies ini di antaranya merupakan ahli botani, satwa, geografi, oceanografi, dan geologi. Oleh karenanya, penemuan kawasan ini merupakan lahan emas bagi pengembangan sains mereka.

Setelah berlabuh di semenanjung Pulau Jawa bagian barat, mereka melihat keelokan alam—dengan berbagai jenis tanaman tropis dan binatang—khas Pulau Jawa yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Mereka melakukan ekspedisi dan eksplorasi alam di Ujung Kulon dengan mendokumentasikan [melakukan pencatatan-pencatatan] dan mengoleksi segala sesuatu yang dianggap asing dan penting dalam khazanah keilmuan mereka. Akhirnya, mereka menggagas untuk menetapkan kawasan—yang mencakup Gunung Krakatau, Pulau Panaitan, Pulau Handeuleum, dan Pulau Peucang—ini sebagai salah satu domain riset dan pengembangan ilmu alam di Asia-Pasifik.

Kendati motivasi utama mereka adalah untuk pengembangan sains, pemerintah kolonial menganggap aktivitas mereka merusak ekosistem kawasan Ujung Kulon. Sebagaimana tertulis dalam catatan sejarah kolonial, selain melakukan riset, para sarjana tersebut juga melakukan perburuan-perburuan terhadap berbagai satwa sebagai upaya memperbanyak koleksi museum-museum sains di negara asal mereka dan ini berlangsung hingga puluhan tahun lamanya [1853—1910]. Memasuki tahun 1910, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan kebijakan untuk melindungi kawasan Ujung Kulon yang makin hari semakin rusak. Kendati demikian, aktivitas pengrusakan ekosistem di Ujung Kulon itu tetap berlangsung hingga sebelum Perang Eropa II pecah di tahun 1939.

Setelah terbentuknya negara Republik Indonesia [RI] di tahun 1945, kawasan Ujung Kulon yang tadinya terbengkalai mulai diperhatikan lagi. Pada tahun 1958 pemerintah RI menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar alam, kendati belum digarap dengan serius. Departemen Kehutanan mengupayakannya dengan mengusulkan ke UNESCO agar area taman nasional ini dijadikan sebagai world heritage site pada kategori hutan bercurah hujan tinggi di dataran rendah terluas di Jawa. Akhirnya, pada tahun 1992 Taman Nasional Ujung Kulon diresmikan sebagai sebuah situs cagar alam dunia oleh UNESCO. Kini, taman nasional ini berada di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Bila ditilik secara historis, Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Taman ini merupakan cikal-bakal beberapa taman nasional di Indonesia, seperti Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara atau kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara.

Selain nilai historisnya, kawasan ini memiliki zona inti seluas kurang lebih 120.551 ha yang terbagi menjadi 76.214 ha berupa daratan dan 44.337 ha berupa lautan dan daerah berbatu karang. Zona inti yang berfungsi sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini memiliki berbagai macam keistimewaan, di antaranya keanekaragaman jenis biota laut, darat, dan satwa langka.

Satwa langka yang dimaksud di atas salah satunya adalah badak Jawa bercula satu [rhinoceros sondaicus] atau yang biasa disebut bacusa. Hewan langka ini merupakan salah satu ciri khas Taman Nasional Ujung Kulon dengan tingkat populasi sekitar 50—60 ekor. Habitat lain dengan populasi lebih rendah [kurang dari 10 ekor] berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Populasi satwa yang termasuk kategori hewan purba tersebut kini terancam punah karena tindakan para kolektor cula [tanduk] badak, namun wisatawan masih dapat menyaksikan wujud dan kehidupan mereka di sini. Di kawasan ini, terdapat beberapa satwa liar dan langka lainnya, seperti rusa, mancak, banteng Jawa (bos javanicus), primata [monyet dan simpanse], babi hutan, rase lemur, lutung (presbytis cristata), gibon Jawa (hylobates moloch), anjing hutan (coun alpinus), kucing batu (felis bengalensis), harimau (panthera trigis), suruli (presbity aygula), dan 270 jenis burung.

Kekayaan lainnya berupa biota laut, salah satunya ialah keindahan terumbu karang yang menjadi sumber makanan dan tempat berlindungnya ribuan jenis ikan laut. Karenanya, konservasi terhadap terumbu karang menjadi perhatian besar pengelola taman nasional. Pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola pada wisatawan ialah rusaknya terumbu karang berarti juga ancaman bagi ekosistem ribuan ikan yang ada di zona laut di kawasan taman nasional ini.

Kekayaan lain yang juga menjadi keistimewaan kawasan ini ialah tumbuhnya berbagai vegetasi tropis di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon—di area hutan lindung yang di dalamnya terdapat gunung dan pulau-pulau. Taman nasional ini memiliki lebih dari 700 spesies tanaman di mana sedikitnya 57 jenis dari jumlah keseluruhan termasuk dalam klasifikasi tanaman langka di Jawa, bahkan di dunia. Kelestarian berbagai tanaman ini terus dijaga karena memengaruhi lestarinya alam secara keseluruhan, seperti kehidupan hewan, kesuburan tanah, keasrian kawasan, dan bersihnya udara dari pengaruh polusi udara. Wisatawan tak hanya akan menjelajahi dan menikmati kawasan dengan kekayaan alam yang sangat mengesankan tersebut, melainkan juga dapat belajar bagaimana menghargai alam.

Bila wisatawan dari Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, hanya memakan waktu sekitar 2—3 jam perjalanan darat dengan kendaraan pribadi atau bus yang menyusuri jalan antarprovinsi menuju ke arah Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang (batas timur taman nasional). Atau, jika wisatawan berada di Kota Tangerang, perjalanan jalur darat diperlukan kurang lebih 4 jam menggunakan bus atau kendaraan bermotor. Sesampainya di sana, wisatawan yang hendak menuju Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, dan Pulau Panaitan harus menyebrang laut dengan speed boat. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa speed boat masih dalam konfirmasi.

Kawasan ini dilengkapi dengan jaringan telekomunikasi, listrik, dan air bersih yang memadai bagi wisatawan. Pilihan penginapan dari berbagai model [hotel, motel, homestay, maupun cottage] dengan variasi harga sewa dapat ditemukan di Tamanjaya [masih dalam area taman nasional], Pulau Peucang [dengan tarif menginap berkisar Rp 150.000—Rp 500.000], dan Pulau Handeuleum. Ada penginapan, tentu ada pula rumah makan. Di kawasan ini, restoran ataupun café menyuguhkan berbagai pilihan menu masakan khas Nusantara maupun yang bercitarasa internasional. Di samping itu, juga tersedia jasa informasi, pemandu wisata, dan fasilitas kapal kecil [speed boat] bagi wisatawan yang ingin menjelajahi antarpulau di kawasan taman nasional ini. Ada fasilitas langsung ketika wisatawan membeli tiket masuk taman nasional ini, yakni wisatawan secara otomatis mendapat jasa asuransi.
Selengkapnya...

Sejarah Pandeglang


Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 tahun 1828, Keresidenan Banten dibagi tiga kabupaten: Kabupaten Utara yaitu Serang, Kabupaten Selatan yaitu Lebak dan Kabupaten Barat yaitu Caringin.
Kabupaten Serang dibagi lagi menjadi 11 (sebelas) kewedanaan. Kesebelas kewedanaan tersebut yaitu: Kewedanaan Serang (Kecamatan Kalodian dan Cibening), Kewedanaan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang), Kewedanaan Ciruas (Kecamatan Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Cilegon (Kecamatan Terate, Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Tanara (Kecamatan Tanara dan Pontang), Kewedanaan Baros (Kecamatan Regas, Ander dan Cicandi), Kewedanaan Kolelet (Kecamatan Pandeglang dan Cadasari) Kewedanaan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat an Ciomas Utara) dan Kewedanaan Anyer (tidak dibagi kecamatan).

Menurut sejarah, pada tahun 1089 Banten terpaksa harus menyerahkan wilayahnya yaitu Lampung kepada VOC (Batavia). Saat itu Banten dipimpin oleh Sultan Muhamad menyusun strategi untuk melawan kekuasaan VOC. Sultan Muhamad menjadikan Pandeglang sebagai wilayah untuk menyusun kekuatan. Kekuatan kesultanan dipencar kepelosok Pandeglang seperti di kaki gunung Karang dan di pantai.
Pandeglang dalam percaturan sejarah kesultanan Banten telah terbukti merupakan daerah yang strategis. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang. Semua itu bukan hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas pada kultur kehidupan masyarakat Pandeglang.

Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak terlihat dari seni budaya yang ada di Pandeglang. Misalnya saja, Pandeglang merupakan Kota Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis, patriotis dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya, akan tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya.

Kembali kepada sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874, tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan Priangan telah Banten telah ditentukan, bahwa:
  • Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
  • Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
  • Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau kewedanaan. Pembagian ini menjadi Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.

Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan Banten.

Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa alternatif, yaitu pada tahun 1828 Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang merupakan kabupaten. Pada tahun 1882 Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun 1925 kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas, maka disepakati bersama bahwa tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.

Arti Semboyan dan Lambang Kabupaten Pandeglang
Lambang tersimpul dalam bentuk perisai segi lima dengan pinggiran pinggiran berwarna emas yang dilengkapi dengan
  1. Sebuah Bintang berwarna Kuning bersudut blima terletak di bagian tengah atas lambing sudut bagian atas bintang menonjol dari prisai.
  2. Tiga Buah krucut yang berderet tidak sama besar dan tingginya terletak pada warna Putih dan Biru muda antara Bintang dengan ujud Padi dan Kapas.
  3. Seekor Badak menghadap kekiri berwarna Abu-abu Kehitam-hitaman bercula satu dengan hiasan garis-gasris putih sebagai batas bagian tubuh Badak terletak di tengah-tengah lambing.
  4. Setangkai Padi dengan tiga puluh tujuh butirnya berwarna kuning emas terletak di sebelah kanan.
  5. Setangkai Kapas dengan enam kuntum bunganya yang mekar berwarna putih berkelopak warna hijau tua terletak di sebelah kiri padi dan kapas membentuk lingkaran mengelilingi seekor badak yang terletak di tengah-tengah.
  6. Sekuntum Bunga melati berdaun bunga empat helai terletak ditengah-tengah persilangan antara tangkai kapas dan tangkai padi.
  7. Dua Garis Berombak sejajar berwarna putih garis bagian atas lebih panjang dari garis bagian bawah terletak diantara badak dan bunga melati.
Warna lambang Daerah Kabupaten Pandeglang mempergunakan lima macam warna yaitu
  • Kuning Emas
  • Putih
  • Biru Muda
  • Hijau Tua
  • Abu-abu kehitam-hitaman
Makna dan Maksud Lambang

BINTANG : Bintang bersudut lima Berwarna kuning emas terletak diatas warna putih melambangkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa yang memancarkan warna kuning emas membentuk perisai segi lima.
PERISAI : Perisai segi lima dimaksudkan sebagai lambang ketahanan masayarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang bergunung-gunung
KERUCUT : Tiga buah kerucut yang tidak sama besar dan tingginya menggambarkan tiga buah gunung melambangkan bahwa daerah Kabupaten Pandeglang Bergunung-gunung
BADAK : Badak bercula satu menghadap ke kiri adalah salah satu binatang peninggalan jaman purba yang masih hidup hingga sekarang, dan hanya terdapat di daerah Kabupaten Pandeglang (Ujung Kulon) dengan sifat-sifatnya antara lain, Tahan uji, waspada dan tabah yang menjadi kebanggaan masyarakat. Kontes SEO Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang salah satunya mengusung misi ini, yakni memperkenalkan Ujung Kulon sebagai Objek Wisata Alam yang potensial di Pandeglang.
PADI : Setangkai Padi dengan 37 butirnya melambangkan jumlah desa di Kabupaten Pandeglang sebanyak 37 desa
KAPAS : Setangkai kapas dengan enam tangkai kuntum bunganya yang mekar, melambangkan jumlah kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten Pandeglang sebanyak 6 Kecamatan
MELATI : Sekuntum Bunga Melati berdaun bunga empat helai berwarna putih melambangkan jumlah kewadanan di daerah Kabupaten Pandeglang sebanyak 4 kewedanan
GARIS BEROMBAK : Dua garis berombak yang tidak sama panjang itu, masing-masing melambangkan laut yang mengelilingi sebagian besar daerah Kabupaten Pandeglangdan sungai yang terdapat di dalamnya


ARTI WARNA LAMBANG
KUNING EMAS Melambangkan Keagungan dan Kewibawaaan
PUTIH Melambangka Kesucian
BIRU MUDA Melambangkan Kesetiaan
HIJAU TUA Melambangkan Kesuburan
ABU-ABU KEHITAM-HITAMAN Melambangkan Ketabahan
Selengkapnya...

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

Kontes SEO Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang bertujuan untuk mengenalkan Potensi Wisata di Kabupaten Pandeglang Banten. Pandeglang Banten merupakan sebagai salah satu Daerah Wisata yang sangat penting di Indonesia. Untuk mengenal lebih baik dan lebih akurat lagi tentang obyek wisata Pandeglang mari kenali Kabupaten Pandelang. Sebab Obyek Wisata Pandeglang tidak akan kita kenali dan mungkin tidak akan dikunjungi kalau kita tidak tahu dimana Pandeglang.

Kabupaten Pandeglang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten, Indonesia. Ibukotanya adalah Pandeglang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang di utara, Kabupaten Lebak di Timur, serta Samudra Indonesia di barat dan selatan. Wilayahnya juga mencakup Pulau Panaitan (di sebelah barat, dipisahkan dengan Selat Panaitan), serta sejumlah pulau-pulau kecil di Samudra Hindia, termasuk Pulau Deli dan Pulau Tinjil. Semenanjung Ujung Kulon merupakan ujung paling barat Pulau Jawa, dimana terdapat suaka margasatwa tempat perlindungan hewan badak bercula satu yang kini hampir punah.

Kenali-dan-Kunjungi-Objek-Wisata-di-Pandeglang

Luas wilayahnya 2.747 km², dan jumlah penduduknya 1,585 juta jiwa (2008). Kabupaten Pandeglang terdiri atas 35 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Pandeglang, yang berada di bagian utara wilayah kabupaten, Pusat perekonomian Kabupaten pandeglang terletak di dua kota yakni Kota Pandeglang dan Labuan

Sebagian besar wilayah Kabupaten Pandeglang merupakan dataran rendah dan dataran bergelombang. Kawasan selatan terdapat rangkaian pegunungan. Sungai yang mengalir diantaranya Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat, dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke arah selatan.
Nah, mari kita kenali ada Obyek Wisata apa saja di Pandeglang? Beberapa obyek wisata ini sangat penulis senangi dan walaupun Penulis belum kesana, penulis sudah mengenal itu yang bernama Obyek Wisata Ujungkulon, Anda tahu khan?

Obyek Wisata Ujungkulon
kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglangTaman nasional yang berada di Provinsi Banten ini dinamai Ujung Kulon lantaran letaknya di ujung Pulau Jawa bagian barat. Taman nasional ini mulai dikembangkan sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1820-an, atau setelah munculnya gagasan dari para sarjana kolonial Hindia-Belanda yang datang ke Pulau Jawa untuk menciptakan kawasan konservasi alam di Ujung Kulon. Sarjana-sarjana kolonial yang sebagian besar merupakan anggota Organization for Scientific Research in Netherlands Indies ini di antaranya merupakan ahli botani, satwa, geografi, oceanografi, dan geologi. Oleh karenanya, penemuan kawasan ini merupakan lahan emas bagi pengembangan sains mereka.

Setelah berlabuh di semenanjung Pulau Jawa bagian barat, mereka melihat keelokan alam—dengan berbagai jenis tanaman tropis dan binatang—khas Pulau Jawa yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Mereka melakukan ekspedisi dan eksplorasi alam di Ujung Kulon dengan mendokumentasikan [melakukan pencatatan-pencatatan] dan mengoleksi segala sesuatu yang dianggap asing dan penting dalam khazanah keilmuan mereka. Akhirnya, mereka menggagas untuk menetapkan kawasan—yang mencakup Gunung Krakatau, Pulau Panaitan, Pulau Handeuleum, dan Pulau Peucang—ini sebagai salah satu domain riset dan pengembangan ilmu alam di Asia-Pasifik.

Kendati motivasi utama mereka adalah untuk pengembangan sains, pemerintah kolonial menganggap aktivitas mereka merusak ekosistem kawasan Ujung Kulon. Sebagaimana tertulis dalam catatan sejarah kolonial, selain melakukan riset, para sarjana tersebut juga melakukan perburuan-perburuan terhadap berbagai satwa sebagai upaya memperbanyak koleksi museum-museum sains di negara asal mereka dan ini berlangsung hingga puluhan tahun lamanya [1853—1910]. Memasuki tahun 1910, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan kebijakan untuk melindungi kawasan Ujung Kulon yang makin hari semakin rusak. Kendati demikian, aktivitas pengrusakan ekosistem di Ujung Kulon itu tetap berlangsung hingga sebelum Perang Eropa II pecah di tahun 1939.

Setelah terbentuknya negara Republik Indonesia (NRI)di tahun 1945, kawasan Ujung Kulon yang tadinya terbengkalai mulai diperhatikan lagi. Pada tahun 1958 pemerintah RI menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar alam, kendati belum digarap dengan serius. Departemen Kehutanan mengupayakannya dengan mengusulkan ke UNESCO agar area taman nasional ini dijadikan sebagai world heritage site pada kategori hutan bercurah hujan tinggi di dataran rendah terluas di Jawa. Akhirnya, pada tahun 1992 Taman Nasional Ujung Kulon diresmikan sebagai sebuah situs cagar alam dunia oleh UNESCO. Kini, taman nasional ini berada di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
Keistimewaan Ujungkulon
kawasan ini memiliki zona inti seluas kurang lebih 120.551 ha yang terbagi menjadi 76.214 ha berupa daratan dan 44.337 ha berupa lautan dan daerah berbatu karang. Zona inti yang berfungsi sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini memiliki berbagai macam keistimewaan, di antaranya keanekaragaman jenis biota laut, darat, dan satwa langka.

Satwa langka yang dimaksud di atas salah satunya adalah badak Jawa bercula satu [rhinoceros sondaicus] atau yang biasa disebut bacusa. Hewan langka ini merupakan salah satu ciri khas Taman Nasional Ujung Kulon dengan tingkat populasi sekitar 50—60 ekor. Habitat lain dengan populasi lebih rendah [kurang dari 10 ekor] berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Populasi satwa yang termasuk kategori hewan purba tersebut kini terancam punah karena tindakan para kolektor cula [tanduk] badak, namun wisatawan masih dapat menyaksikan wujud dan kehidupan mereka di sini. Di kawasan ini, terdapat beberapa satwa liar dan langka lainnya, seperti rusa, mancak, banteng Jawa (bos javanicus), primata (monyet dan simpanse), babi hutan, rase lemur, lutung (presbytis cristata), gibon Jawa (hylobates moloch), anjing hutan (coun alpinus), kucing batu (felis bengalensis), harimau (panthera trigis), suruli (presbity aygula), dan 270 jenis burung.

Kekayaan lainnya berupa biota laut, salah satunya ialah keindahan terumbu karang yang menjadi sumber makanan dan tempat berlindungnya ribuan jenis ikan laut. Karenanya, konservasi terhadap terumbu karang menjadi perhatian besar pengelola taman nasional. Pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola pada wisatawan ialah rusaknya terumbu karang berarti juga ancaman bagi ekosistem ribuan ikan yang ada di zona laut di kawasan taman nasional ini.

Kekayaan lain yang juga menjadi keistimewaan kawasan ini ialah tumbuhnya berbagai vegetasi tropis di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon—di area hutan lindung yang di dalamnya terdapat gunung dan pulau-pulau. Taman nasional ini memiliki lebih dari 700 spesies tanaman di mana sedikitnya 57 jenis dari jumlah keseluruhan termasuk dalam klasifikasi tanaman langka di Jawa, bahkan di dunia. Kelestarian berbagai tanaman ini terus dijaga karena memengaruhi lestarinya alam secara keseluruhan, seperti kehidupan hewan, kesuburan tanah, keasrian kawasan, dan bersihnya udara dari pengaruh polusi udara. Wisatawan tak hanya akan menjelajahi dan menikmati kawasan dengan kekayaan alam yang sangat mengesankan tersebut, melainkan juga dapat belajar bagaimana menghargai alam.

Pantai Tanjung Lesung

kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglangPantai yang berada di sebelah barat Kabupaten Pandeglang, Banten, dan memiliki luas sekitar 150 hektar ini, resmi dibuka sejak pertengahan Januari 1998. Pantai ini dinamakan Pantai Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung, yaitu salah satu alat yang digunakan masyarakat tradisional Nusantara untuk menumbuk padi.
Meski terbilang baru, fasilitas pendukung di kawasan ini relatif lengkap dan representatif. Apalagi Pemerintah Kabupaten Pandeglang sendiri telah bertekad mengembangkannya sebagai salah satu tempat rekreasi bahari terkemuka di Indonesia.

Keistimewaan

Salah satu keistimewaan Pantai Tanjung Lesung Pandeglang ialah panorama alamnya yang indah, pasir putihnya yang halus, dan anginnya yang berhembus pelan, membuat kawasan Pantai Tanjung Lesung terasa begitu spesial ketika dikunjungi bersama keluarga atau kolega. Hamparan pasir pantainya yang landai dengan luas mencapai 15 kilometer, memberi cukup ruang kepada wisatawan untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti membuat patung dari pasir, berjemur, berolahraga, dan lain sebagainya.

Posisi pantainya yang tidak menghadap langsung ke samudera lepas membuat tiupan angin dan deburan ombak kawasan ini tidak terlalu besar, sehingga wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti berenang, berperahu, bermain jetski, dan snorkling. Memancing merupakan aktivitas menarik lainnya, karena kawasan ini merupakan rumah bagi banyak ikan.

Bagi wisatawan yang berhasrat menikmati kekayaan hayati dan pesona bawah lautnya, dapat menyewa peralatan menyelam. Dengan menyelam, wisatawan akan terpukau melihat terumbu karang yang rancak, ubur-ubur beraneka warna, siput-siput kecil dengan cangkang yang unik, dan ikan-ikan yang berenang berkejar-kejaran di garis pantai. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin mempelajari cara mentransplantasikan terumbu karang, dapat mengunjungi lokasi konservasi yang berada di tengah laut.

Pesona terbit dan tenggelamnya matahari beralas laut tenang dan berlatar langit cerah, serta ditingkahi oleh burung-burung laut yang terbang rendah dan sesekali menyambar ikan di sepanjang pantai, kian mengukuhkan betapa spesialnya kawasan ini. Wisatawan dapat mencerap momen indah tersebut dari shelter-shelter, pondok-pondok wisata, atau dari atas perahu yang berjalan perlahan-lahan di tepi pantai.
Saya mengajak mari kita sukseskan Kontes SEO Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang ini!

Selengkapnya...

Followers

PMDK © 2009 Template Redesign by Not Just A Reference.

TOP