Showing posts with label Selamatkan Al-Aqsa. Show all posts
Showing posts with label Selamatkan Al-Aqsa. Show all posts

Sunday, September 13, 2009

Mari Bantu Palestina

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami’in naasi li yaumin laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan rasuulullaah… wa ba’d…

Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak. Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia pun merespon dengan berbagai macam aksi.

Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Yang paling menonjol dalam hal bantuan tersebut adalah Saudi Arabia, di bawah pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –ayyadahullah-. Ini bukan klaim tanpa bukti. Sebagai contoh: Program “Donasi Untuk Palestina” digencarkan, walaupun sudah sejak lama dicanangkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga terus mengalir sampai tulisan ini diturunkan. Kalangan ulama pun tidak tinggal diam. Baik perseorangan maupun lembaga/organisasi. Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi serangan tersebut dalam khutbah jum’at mereka. Mereka dan umumnya para khatib di Saudi tidak lupa mendo’akan kaum muslimin Palestina secara khusus. Lajnah Daa’imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun moril/spirit.

Namun ada segelintir orang menutup mata dengan kenyataan ini dan berkomentar, “Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di Palestina.” atau kalimat yang semisalnya.

Terhadap siapa saja yang berkomentar seperti di atas, saya katakan:

Apakah maksud Anda dengan kata ‘konkrit’ bahwa Anda menginginkan agar Pemerintah Saudi mengirimkan tentaranya ke Palestina untuk menghantam pasukan Israel? Baiklah jika memang demikian, apakah Amerika akan tinggal diam? Padahal Allah berfirman (yang artinya), “…dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan…” (Qs. Al Baqarah: 195)

Taruhlah seperti apa yang Anda inginkan bahkan lebih dari itu -semua pemerintah negara muslim mengizinkan rakyatnya untuk berjihad ke palestina dan saya berhusnudzdzan Anda akan ikut serta di dalamnya-, maka Anda akan berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera HAMAS kah? Atau berspandukkan AL FATH? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami Palestina (JIP)? Atau Anda memimpin laskar jihad yang Anda buat sendiri? Tahukah Anda bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan meneriakkan, “…’Isy kariiman… aw Mut syahiidan…” (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan tandhim (taktik dan siasat perang). Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda yakin bahwa masing-masing front/partai/hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa ilaaha illallaah? Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.

Jika Anda mengatakan, “Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam menghadapi dan menyikapi Yahudi.”, maka saya tidak berbeda pendapat dengan Anda. Bahkan tidak ada dua orang muslim yang berselisih pendapat tentangnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. Ash Shaff: 4)

Namun bagaimana Anda bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun (dengan mematuhi persyaratannya atau menjalankan lelaku walaupun bertentangan dengan syari’at), paranormal (dengan membenarkan berita gaib yang sampai kepadanya), dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar?! Bagaimana Anda akan mempersatukan kaum muslimin dalam rangka jihad, kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan azan “Mari mencapai kemenangan…” 2x bermalas-malasan mendatangi masjid (terutama waktu fajr/shubuh)?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pondasi segala sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At Tirmidzi, Hasan Shahih). Al Islam itu sendiri adalah istislam (berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan inqiyaad (patuh) dengan mentaatiNya, dan baraa’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil menggapai puncak kejayaan, jikalau pondasi dan tiangnya keropos.

Jika Anda bersikap adil, mengapa Anda hanya menggugat Saudi Arabia? Bukankah negara yang berbatasan dengan Palestina adalah Mesir, Yordania, Libanon serta Syiria? Seharusnya negara-negara tersebut yang paling mudah untuk mengirim pasukan-pasukannya mengepung dan meremukkan artileri dan infanteri Yahudi. Namun pertanyaan politis yang harus Anda jawab terlebih dahulu adalah: Apakah negara-negara Arab yang disebutkan terakhir (sebagai misal saja) politik luar negerinya merupakan politik anti Amerika???

Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Buktinya salah satu negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza menilai Hamas lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang berhadapan dengan laut Mediterrania (Al Bahru -l Mutawassith) itu. Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Lihatlah! Sesama negara Arab berbeda pandangan dan sikap. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang baru. Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –rahimahullah- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar dari Sainaa’.

Oleh karena itu bersikaplah adil dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu. Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti dan fakta. Mengapa kita disibukkan dengan menilai dan mensifati orang lain dan lalai menilai diri kita sendiri? Mengapa kita tidak berlomba-lomba melebihi Saudi Arabia dalam membantu korban kedzaliman Yahudi tersebut? Silahkan saja bandingkan antara Saudi Arabia dengan negara mana saja dalam hal donasi untuk Program Peduli Palestina.

Akhirnya, mari kita mendo’akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina umumnya, agar mendapatkan syahadah fii sabiilillah dan semoga kita dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang shalih.

Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa aakhiru da’waanaa anil hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Riyadh, 14 Muharram 1430 H

Penulis: Abu Yazid (dari Riyadh, Saudi Arabia)
Selengkapnya...

Tuesday, September 1, 2009

Selamatkan Al Aqsa

Selamatkan Al Aqsa. Sejatinya, Masjid Al Aqsa yang terletak di kota lama Yerusalem merupakan simbol kemuliaan dan kehormatan umat Islam. Sayangnya, masjid yang sempat menjadi kiblat pertama umat Islam itu kini terus dirongrong Zionis Israel. Imam Masjid Al Aqsa, Syekh Mohammad Mahmud Seyam, mengungkapkan, hampir sepertiga simbol kehormatan Islam itu dikuasai Israel.

''Hanya dengan bantuan dana dan doa dari umat Islam di seluruh dunia, masjid yang tercantum dalam Alquran itu bisa kembali dikuasai oleh umat Muslim,'' ungkap Syekh Seyam saat berdiskusi dengan ribuan mahasiswa Bandung di Masjid Salman ITB, Rabu (10/8).

Ia juga mengajak seluruh umat Muslim di dunia untuk menjadikan Ramadhan 1430 H sebagai momentum menyelamatkan kiblat pertama umat Islam.

Pada era kepemimpinan Rasulullah SAW, umat Muslim berbondong-bondong membantu Masjid Al Aqsa, seperti menyumbangkan minyak zaitun untuk penerangan. Saat ini, lanjut dia, yang dibutuhkan untuk mempertahankan masjid tersebut adalah bantuan dana dan doa dari seluruh umat Muslim.

Bulan Ramadhan, papar dia, merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah. Saat ini, kata dia, Masjid Al Aqsa membutuhkan bantuan dana untuk membiayai penerangan. Syekh Seyam menuturkan, jika umat Muslim menguasai seluruh pembiayaan Masjid Al Aqsa, rongrongan Yahudi di masjid tersebut akan tergeser.

Ia menjelaskan, Israel sulit diusir dari Palestina karena masih adanya kelompok-kelompok di wilayah itu yang menginginkan keberadaan Israel. Sementara itu, tegas Syekh Seyam, mayoritas warga Palestina menolak keberadaan Israel di negaranya.

''Keberadaan Israel itu sangat mengganggu umat Muslim di Palestina,'' tuturnya. Syekh Seyam menegaskan, menyelamatkan Masjid Al Aqsa merupakan bagian dari jihad. Dia menyatakan, format jihad yang saat ini harus diberlakukan adalah tergantung dari karakter lawan.

''Israel tidak mengenal bahasa perdamaian. Jadi, jihadnya tidak bisa dengan cara menawarkan perdamaian,'' imbuh Syekh Seyam. Berbeda dengan di Indonesia, tutur dia, masih bisa berjihad dengan cara menawarkan perdamaian.

Menurut dia, bantuan dana dari umat Muslim di Indonesia menjadi berkah bagi warga Palestina. Ia menilai, bantuan tersebut merupakan bagian dari jihad. Mengingat, tegas dia, umat muslim di Palestina saat ini sangat membutuhkan uluran tangan dari saudaranya di seluruh dunia.

Syekh Seyam kembali mengingatkan, umat Islam di seluruh dunia merupakan saudara dunia dan akhirat. Untuk itu, lanjut dia, hanya umat Muslim-lah yang bisa menyelamatkan Palestina. Dalam diskusi tersebut, Seyam pun memotivasi mahasiswa untuk menjadi benteng penjaga Islam di dunia.

Agar menjadi benteng penjaga agama Allah SWT, Syekh Seyam menyarankan mahasiswa untuk menjadi orang pintar. Dengan demikian, papar dia, kepintarannya bisa dijadikan senjata untuk menyelamatkan umat Muslim.

Di samping kepintarannya, lanjut Seyam, mahasiwa Indonesia pun harus menjadi umat yang memegang prinsip keikhlasan. ''Rasulullah bukan lulusan perguruan tinggi. Tapi, beliau bisa dipanggil Allah SWT,'' tambahnya.

Artinya, lanjut dia, umat Muslim yang ikhlas dalam menjalankan perintah-Nya akan mendapatkan ridha pula dari Allah SWT. Dalam berjihad pun, lanjut dia, harus tetap mengedepankan nilai ikhlas, bukan kebencian. Pihaknya tak pernah bosan mengajak umat Muslim di dunia agar peduli terhadap kondisi Palestina.

Syekh Seyam menyatakan, Indonesia merupakan negara yang peduli terhadap Palestina. Ia berharap, kemelut di Palestina segara tuntas. ''Palestina harus menjadi negara yang dikuasai umat Muslim,'' ujarnya menegaskan.
Selengkapnya...

Followers

PMDK © 2009 Template Redesign by Not Just A Reference.

TOP